Teater Epik vol. 5: Taraksa

IMG_0234

Rabu, 27 Februari 2013 lalu, saya mencatatkan di buku sejarah kehidupan untuk pertama kalinya menonton teater. Yah, tadinya saya ingin menulis hal di atas sebelum saya teringat bahwa waktu SMA dulu pernah ada tugas menonton teater dan membuat ulasannya juga. Hahaha, gagal deh.

Bersama teman-teman Informatika-pengambil-kelas-CI, saya meluncur ke Teater Tertutup Dago Tea House Bandung yang baru beberapa hari sebelumnya dikunjungi untuk Konser ISO. Pentas dimulai pukul 19.00, namun ketika kami datang jam 18.00 ternyata tempat sudah hampir penuh! Terpaksa kami mengambil di bagian-bagian sisa, yaitu di atas.

Karena pengalaman menonton teater saya sangat minim, saya tidak dapat membanding-bandingkan. Namun saya sangat suka konsep yang dipakai dan berpikir “bukankah memang sebaiknya setiap teater terkonsep seperti ini?“.

Cerita Taraksa sendiri merupakan cerita perjalanan cinta di sebuah dunia bernama Ahimsa. Dengan kreatif, tim Taraksa yang sebagian sama-sama dari SMA 3 Bandung dan seangkatan dengan saya, membuat dunia yang berbudaya dan seakan-akan benar-benar ada. Pakaian, bahasa, gerak-gerik, salam, dibuat sedemikian rupa hingga orang menyebut “tidak dapat diterka dari mana inspirasinya”, walau saya sendiri langsung teringat akan suku Indian di Amerika ketika melihat kostum penduduk Ahimsa yang berkeliling di sekitar penonton sebelum teater dimulai.

IMG_0239Stand makanan dan pernak-pernik pun tak lupa disediakan di area teater.

IMG_0247Ceritanya? 7/10. Kisah tak tersampaikan, Chiandra yang “mengubah” hidup Taraksa kemudian menghilang sehingga bisa dikategorikan sebagai manic pixie dream girl (maaf kalau sok tahu haha), dan petualangan memang formula yang hampir selalu manjur. Namun, kekuatan teater adalah penceritaan. Ide sederhana dapat begitu menyentuh jika dilakukan dengan tepat.

Teater Epik membuktikannya dengan cara melibatkan penonton, properti keren, musik apik, dan pencahayaan yang hampir tanpa cela. Saya paling suka adegan ikan-ikan Kordi di bagian paling akhir. Hanya dengan topeng dan buih-buih udara, saya langsung terbayang suatu tempat di dalam air dan ikan-ikan yang berenang-berenang. Tim Teater Epik pun terlihat sangat bahagia pada akhir pentas Taraksa terakhir ini.

IMG_0395Tak lupa, kami berfoto dengan pemeran, walaupun hanya dua tokoh utama: Chiandra yang jelita dan Balu yang ternyata sekelas CI juga, hahaha

IMG_0456

IMG_0461Akhir kata, saya sangat berharap keinginan tim Teater Epik terkabul: Teater Tertutup Dago Tea House kembali menjadi teater seperti yang seharusnya.

Advertisements
1 comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: