#AngkotDay

“Titip bilangin ya ke panitianya, kata teman saya orang luar negeri, angkot itu sangat mewah. Bisa dicegat dan diberhentikan di mana saja. Di luar negeri yang sistem transportasinya bagus, mana bisa penduduknya berlaku seperti itu.”

“Wah, Angkot Day ini menarik sekali! Semoga berhasil ya! Saya dukung sekali, saya ingin transportasi di Bandung seperti di luar negeri!”

“ANGKOT GRATIS ANGKOT GRATIS! DAGO ULANG TAHUN ANGKOT GRATIS YEUUH!”

“Sok saya dukung pisan ini program, saya mah rela bayar juga asal nggak ngetem dan tepat waktu dan nggak macet”

“Terima kasih ya angkot gratisnya! Semoga sukses dengan risetnya ya Mbak!”

Kata-kata di atas adalah pesan-pesan yang saya dapatkan ketika saya menjadi relawan #AngkotDay tanggal 20 September 2013 lalu. #AngkotDay adalah sebuah riset yang diprakarsai Riset Indie untuk memberikan kesadaran mengenai pentingnya transportasi publik di kota Bandung. Selama satu hari, angkot jurusan Kalapa-Dago digratiskan! Pertama kali mendengar #AngkotDay ini, saya langsung tertarik dengan konsepnya. Dari dulu saya mengidamkan adanya MRT/Mass Rapid Transportation alias kereta cepat yang bisa lewat dekat rumah. Yah, pokoknya transportasi publik yang nyaman, aman, dan tentu saja murah. Huahahaha.

Info mengenai #AngkotDay bisa dilihat di http://angkotday.info/ 😀

Pengalaman menjadi co-driver ini sungguh sangat berharga. Saya belajar banyak dari supir angkot, penumpang, maupun sesama relawan. Karena saya memilih shift pagi, saya berangkat subuh dari rumah dan langsung dipasangkan (cie) dengan seorang bapak supir angkot. Dari jam 05.30-11.30, saya bolak-balik Kalapa-Dago hingga 4 kali! Ternyata duduk saja bisa capek sendiri, belum lagi harus berinteraksi dengan para penumpang dan mensosialisasikan program #AngkotDay.

Nah, dari 4 rit yang dijalani, saya berpetualang dengan 3 supir saja karena pada rit 3 dan 4 saya berpasangan supir yang sama :””> aw romantisnya. Kesan setiap supir berbeda-beda, tentu saja. Nah, berikut adalah rangkuman dari apa yang saya dapatkan selama perjalanan.

  1. Supir Angkot. Semua supir yang menjadi jodoh saya senang dengan adanya #AngkotDay ini, terutama dengan adanya kompensasi uang (sehingga angkot bisa digratiskan). Jika disuruh memilih antara sistem setoran (yang berbeda-beda untuk setiap juragan angkot yaitu kisaran Rp90.000,00-Rp150.000,00) dan digaji tetap, ternyata gaji tetap lebih dipilih. Kisaran umur supir angkot pun sangat bervariasi, ada yang di bawah 30 tahun, 40 tahun, hingga 60 tahun. Salah satu supir yang menjadi “jodoh” saya adalah bapak-bapak berumur 60 tahun lebih yang memang dari dulu sudah menjadi supir angkot. Satu angkot pun bisa memiliki dua supir yang memiliki jam kerja bergantian.
  2. Ngetem. Salah satu sasaran dari riset #AngkotDay ini adalah melihat bagaimana efek jika angkot tidak ngetem selama seharian. Kenapa? Karena salah satu penyebab orang malas naik angkot adalah ketepatan waktunya yang sangat tidak dapat diandalkan. Padahal, angkot ngetem karena kurang penumpang. Lingkaran setan banget kan? Setelah mencoba angkot-tanpa-ngetem kemarin itu, memang perjalanan angkot menjadi cepat. Walaupun mungkin saja memang karena belum jam sibuk. Rit 1 hanya sejam, rit 2 1,5 jam, dan rit 3 dan 4 lebih lama lagi karena mobil-mobil sudah mulai banyak keluar. Ketika ditanya mengapa ngetem, tentu saja jawabannya mudah ditebak: setoran (walaupun ada supir yang mengaku tidak pernah ngetem (Y)) Setoran yang tetap dengan jumlah penumpang yang tidak tetap pun akan membuat supir angkot harus menghitung pengeluaran bensin, setoran, perawatan, dan sebagainya secara teliti. Selain jumlah penumpang yang tidak tentu, mereka juga berkomentar mengenai para wisatawan luar kota yang membawa kendaraan pribadi, yang biasanya memenuhi Bandung pada akhir pekan sehingga menyebabkan kemacetan. Cicilan motor yang murah pun menjadi salah satu sumber keluhan mereka. Yup, motor yang bisa dibeli dengan mudah menyebabkan penumpang berkurang dengan drastis.
  3. Jam Kerja. Jam kerja untuk setiap jurusan memang berbeda-beda. Ada yang jam 8 malam sudah tidak berkeliaran, namun ada juga yang 24 jam (eh ada nggak ya?). Ternyata, jam kerja untuk setiap supir angkot pun berbeda-beda, karena ditentukan oleh kesepakatan dengan juragan. Bapak supir pertama yang memang sudah berumur lebih dari 60 tahun, mengaku hanya bekerja dari pagi hingga jam 16.00 karena sudah “tidak kuat”. Sementara untuk angkot yang memiliki dua supir tentu sesuai dengan kesepakatan antara mereka berdua, biasanya dilakukan pergantian berdasarkan hari. Lalu, mereka juga memiliki istilah untuk jam kerja, misalnya “jam tanggung” untuk jam 09.00-11.00 dan 13.00-15.00, di mana penumpang sangat sedikit. Jam sibuk adalah jam pulang pergi sekolah dan kerja, yaitu sekitar pukul 06.00-09.00 dan 15.00-17.00.
  4. Penumpang. Secara umum, penumpang pada hari biasa memang kebanyakan perempuan. Menurut analisis sotoy saya, kemungkinan karena kebanyakan para pria sudah beralih ke motor karena cicilan motor semakin mudah dan murah. Penumpang pada saat #AngkotDay bervariasi. Ada yang memang rutin menggunakan dan ada yang memang menggunakan Kalapa-Dago untuk sekadar berekreasi karena gratis. Interaksi dengan penumpanglah yang sangat menarik, karena ketika saya menjelaskan mengenai #AngkotDay ini, sebagian besar terlihat antusias. Bahkan ada segerombolan anak SMP yang begitu tahu saya adalah relawan, langsung bertanya ini itu. Hihihi. Saya mendapat banyak wejangan dari penumpang, salah satunya seperti yang saya tulis di atas. Interaksi juga mengenalkan saya dengan lebih banyak tipe orang yang tidak dapat saya temui di tempat saya beraktivitas sehari-hari. Misalnya adalah orang-orang yang (sepertinya) buta huruf karena mereka menolak mengisi kuesioner yang saya bagikan namun bersedia ketika saya tawarkan untuk membacakan kuesionernya. Lalu ada yang seumuran saya namun pendidikan terakhirnya adalah SD. Pengalaman dengan penumpang membuat saya lebih menyadari keadaan dan kenyataan yang ada di Bandung. Wish I can solve those problems! Hal yang menarik lainnya adalah ada beberapa penumpang yang berterima kasih pada saya karena angkotnya jadi gratis! Hahahaha!
  5. Sistem Angkot. Ini banget sih yang paling bikin gemes. Mungkin karena saya dekat dengan orang yang mengerti mengenai transportasi (babeh maksudnya, hahahaha). Menurut beliau, Bandung memang sudah tidak cocok dengan sistem angkot karena sudah menjadi kota dengan lebih dari satu juta penduduk. Paling efektif itu MRT, kalau nggak ya bus kota deh minimal. Masalahnya adalah sistem! Walaupun ada yang bilang menyalahkan sistem itu tidak baik, minimal kita tahu deh akar masalahnya dari mana. Dari pengamatan saya pribadi dengan beberapa pengetahuan dari babeh, sistem angkot di Bandung dan Indonesia adalah swasta, di mana juragan angkot bisa memiliki angkot berapapun selama ada modal dan izin. Setiap angkot memiliki supirnya masing-masing yang menjadi supir, teman, perawat, dan sebagainya bagi angkot tersebut. Mungkin memang lebih baik semua angkot dikelola langsung oleh pemerintah dengan para “juragan” sebagai penanam modal kali ya.. (Tapi itu hanya ide sotoy saja sih, belum menggunakan metode ilmiah balabala untuk dibuktikan hahaha)
2013-09-20 07.09.05

Pemandangan dari kursi Co-Driver

Yah, mungkin itu sebongkah dua bongkah pengalaman saya menjadi Co-Driver di #AngkotDay. Menyenangkan sekali! Dengan adanya program ini, penduduk Bandung menjadi sadar akan pentingnya angkot. Usul saya (atau memang sudah direncanakan?), adakan lagi #AngkotDay, namun jangan gratis dan tetap tidak ngetem, karena itulah keadaan sebenarnya di lapangan. Diharapkan kita bisa benar-benar mendapatkan keadaan lapangan sebenarnya untuk membangun solusi yang tepat bagi sistem transportasi publik di Bandung.

xoxo

seorang penduduk Bandung sejati

N

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: