Wanita Dingin

Ia tidak termasuk kedalam stereotipe ibu yang kerap muncul:ibu yang keras dan disiplin terhadap anaknya, ibu yang lembut dan selalu ada, ataupun ibu wanita karir yang tidak lalai untuk mendidik putra-putrinya.

Ibu adalah wanita biasa. Wanita biasa yang dingin. Bahkan, ayah juga mengakui hal tersebut.

Ia dingin dalam mengekspresikan dirinya. Ia selalu tampil seperti tidak punya keinginan, yang selalu membuatnya tampil sederhana, karena selalu mendahulukan kepentingan anak-anaknya dibandingkan dirinya sendiri.

Ia dingin dengan jarang mengekspresikan kasih sayangnya–jika ada. Becanda. Tentu saja ada. Besar sekali. Namun kasih sayangnya itu ditunjukkan dengan cara selain pelukan dan ciuman.

Ia sangat dingin ketika kecewa: ia diam. Diamnya itu adalah salah satu siksaan dunia bagi yang pernah merasakannya.

Ia dingin, yang dibuktikan dengan dirinya mengatakan “lebay ah” ketika membaca tulisan ini.

Namun di balik topeng dinginnya, ia adalah wanita sangat logis dengan sisi perasanya tersendiri. Sebagai seorang lulusan farmasi, ia selalu tahu pertolongan pertama apa yang dibutuhkan jika ada yang terluka. Jika ditanya mengenai obat-obatan, maka ocehan semacam “jadi thrombopop mengandung zat X yang akan membantu darah supaya Y sehingga akan membuat efek Z” akan keluar dengan lancar yang biasanya disambut cengiran anak-anaknya yang mengatakan “Ibu sok ilmiah”. Namun di saat bersamaan, ia dapat menangis tersedu-sedu hanya karena tidak tega melihat video bayi yang dijahili oleh orangtuanya yang memberikan lemon langsung ke lidah bayi itu. Itu jahat sekali!, katanya sementara yang lain menganggap video itu lucu.

Di balik topengnya, ia adalah wanita yang rela meninggalkan pekerjaannya sebagai apoteker sebagai salah satu usahanya untuk menjadi seorang ibu. Berat, apalagi saat itu karirnya sedang berjalan dengan baik. Apalagi, ia sempat kehilangan salah satu anaknya: kakak laki-lakiku yang pergi sebelum aku lahir. Walau begitu, ia selalu mendidik anak-anaknya untuk mandiri. Wanita jangan bergantung kepada laki-laki, banyak wanita luar biasa yang bisa bekerja dan mengasuh anak dengan baik, katanya. Well, women are naturally born as multi-taskers, anyway. Tidak, itu bukan berarti hubungan ibu dan ayah buruk. Tahun 2014 kemarin usia pernikahan mereka sudah mencapai 28 tahun.

Selain itu, ia adalah perencana keuangan yang sangat hebat untuk sebuah keluarga kelas menengah yang selalu terkena dampak langsung dari kenaikan harga BBM. Dengan sentuhan tangan magisnya, anak-anaknya bisa bersekolah di sekolah yang baik. Pendidikan selalu menjadi prioritas dan dan selalu ada makanan terhidang setiap malam. Alhamdulillah.

Topeng dinginnya membuat ia seperti tak punya keinginan untuk membeli hal-hal yang tidak diperlukan dan hal tersebut membuatnya selalu tampil sederhana, make up biasa, dan tampil sesuai dengan keperluan. Di saat wanita-wanita lain membutuhkan biaya sekian juta untuk menjaga penampilan yang jadinya terlihat tidak alami, ibu saya bertahan dengan kesederhanaannya, yang kadang disyukuri oleh ayah. Untung ibu tidak suka dandan, kata ayah becanda, jadi uangnya bisa dipakai yang lain.

Di balik topengnya juga, ia adalah wanita biasa yang dapat terlihat insecure dengan warna kulitnya yang tidak putih, yang sebetulnya merupakan propaganda sukses dari iklan pemutih kulit yang sebetulnya tidak memutihkan. Ia selalu bertanya, “Apa warna ini cocok dengan kulit Ibu?”. Dia tidak pernah tahu bahwa warna-warna pilihannya selalu cantik dan cocok untuknya.

Sedingin apapun ia, ia adalah ibuku, satu-satunya wanita yang memberikan segalanya untuk “bertemu” diriku, satu-satunya figur ibu, dan wanita paling cantik di semestaku. Ia bukan orang yang sempurna, tapi hanya ia orang yang boleh memanggilku “Keledun”, yang kupikir adalah permainan kata dari “kedul” (pemalas, Bahasa Sunda) namun ternyata memang panggilan spesial untuk diriku dan yang kubalas dengan memanggilnya “Mumun”. Ia adalah satu-satunya wanita yang setiap memikirkannya selalu memunculkan rasa ingin memeluk dirinya hingga sesak nafas.

Beberapa orang berani mengklaim bahwa ibunya adalah yang terbaik di dunia. Pernyataan yang sesungguhnya membingungkan: berapa ibu yang telah mereka coba sehingga keluar pernyataan tersebut? Tidak, aku tidak akan pernah mengatakan hal itu.

Bukan, ia bukan ibu terbaik di dunia; namun, jelas ia adalah wanita terbaik di dunia yang dikirimkan untuk mengatasi beberapa masalah di dunia ini: aku dan adikku, kedua anak perempuannya. Oh, juga pembuat sup krim terbaik di semestaku.

Love you always, Mum.
N.
Tulisan ini disertakan dalam kegiatan Nulis Bareng Ibu. Tulisan lainnya dapat diakses di website http://nulisbarengibu.com
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: