Archive

Everyday Life

Have I told you how much I love rainy days?
The way I seldom bring any umbrellas,
the way I always refuse when my friends offers me their umbrella (if it’s only light to medium rain),
the way it gives me chill,
the way “la pluie” is one of my first French word,
the way I listen to this even on these rainy days
should have told you how much I love it more than sunny ones.

xoxo

N

Advertisements

I should have started my thesis but since I do this fast track program (the program which enables you to pursue undergraduate and postgraduate in 5 years and normally 6 years) because it is free and I still want to pursue postgraduate in Europe, I procrastinate instead. I have had my own topics; it is still about sustainable technology and stuffs. It is like my passion; I love the earth and environment and I never do anything concrete about it.  The main reason is I hate hot weather and I hate the change of temperature in my city. Bandung is getting hotter! Lol, what a reason.

I decided to do some research about Carbon Management System, but unfortunately, I have not found the open sources ones so maybe I should buy it. The problem is I don’t have enough moneyyy. Yeahh.. it is all about the money! Sigh. My thesis supervisor advised me to enter my undergraduate thesis for some journals. It is interesting, but it means I have to translate it first  to English first. Yeah I am a lazy girl even though I know I am writing in English right now. L-O-L.

Well, the main problem is not that. It is just my escape. No one knows about my main problem, but writing about it is enough.

xoxo

N

Sebelum saya datang ke Jalan Bali nomor 7 sesuai dengan arahan dari Mbak Dina, saya teringat sebuah artikel Kompas Minggu yang membahas rumah-rumah inspiratif dan saat itu yang dimuat adalah sebuah rumah di Jalan Bali. Rumah tersebut milik seorang peraih Piala Citra Mak Gondut yang muncul di film Demi Ucok. Saya tahu rumah yang sedang dibahas tersebut, karena saya sering melewatinya ketika masih SMA dulu di Jalan Belitung. Rumah tersebut selalu terlihat asri dan rindang.

Lalu dengan menghubung-hubungkan rumah tersebut, Mbak Dina, dan kreativitas dan inovasi, saya menebak ini ada hubungannya dengan film Demi Ucok itu. Kebetulan saya sudah tahu sebelumnya mengenai film tersebut karena saya tergabung di Liga Film Mahasiswa ITB dan sutradara film tersebut dulunya juga tergabung di unit yang sama 😀

Ternyata, prediksi saya benar! Fufufuu. Baru saja saya sampai di depan rumah itu, saya sudah melihat Mak Gondut sedang akan berjalan-jalan dengan anjingnya.

Singkat kata, akhirnya kami berkumpul di lantai atas rumah Mbak Sammaria Simanjuntak, sang sutradara Demi Ucok. Rumah tersebut memang unik, pantas saja masuk Kompas. Rumah itu juga menjadi headquarter untuk PT. Kepompong Gendut, rumah produksi milik Mbak Sammaria dan kelima temannya.

Hal yang menarik dari kunjungan ke sana adalah bahwa jumlah anggota sedikit dan markas yang berupa rumah tinggal tidak menghalangi kreativitas mereka. Saat ini sudah ada dua film layar lebar, cin(T)a dan Demi Ucok, beberapa iklan, video klip, dan serial televisi yang akan tayang.

Kepompong Gendut juga pernah menjalankan proyek iklan dari Google tentang ide-ide di masyarakat (tapi belum nemu nih link-nya, haha). Sebagai UKM yang telah menjadi PT demi meluncurkan film-film mereka di bioskop ternama, Kepompong Gendut menjaga lingkungan kerjanya agar tetap nyaman dan tenang dan menghasilkan ide-ide kreatif lainnya.

PT. Kepompong Gendut membuktikan bahwa kreativitas dapat ditemukan di mana saja.

xoxo

Hello,

This Khanduri made my visit to campus not really fruitless since I don’t have any classes on Friday. It is kind of Aceh food festival but I think it’s more than that because there was a stage on Campus Center Basketball Field. We tried roti cane kari (curry cane bread), roti cane manis (sweet cane bread), mie Aceh (Aceh noodle), teh tarik (tarik tea), and martabak (?). And like every girls around the earth, we have to take a photo with/of the food before eating.

The girls and their appetites.

The girls and their appetites, from Sasri’s phone

p.s. The Curry Cane Bread was REALLY good!

xoxo

N.

IMG_0234

Rabu, 27 Februari 2013 lalu, saya mencatatkan di buku sejarah kehidupan untuk pertama kalinya menonton teater. Yah, tadinya saya ingin menulis hal di atas sebelum saya teringat bahwa waktu SMA dulu pernah ada tugas menonton teater dan membuat ulasannya juga. Hahaha, gagal deh.

Bersama teman-teman Informatika-pengambil-kelas-CI, saya meluncur ke Teater Tertutup Dago Tea House Bandung yang baru beberapa hari sebelumnya dikunjungi untuk Konser ISO. Pentas dimulai pukul 19.00, namun ketika kami datang jam 18.00 ternyata tempat sudah hampir penuh! Terpaksa kami mengambil di bagian-bagian sisa, yaitu di atas.

Karena pengalaman menonton teater saya sangat minim, saya tidak dapat membanding-bandingkan. Namun saya sangat suka konsep yang dipakai dan berpikir “bukankah memang sebaiknya setiap teater terkonsep seperti ini?“.

Cerita Taraksa sendiri merupakan cerita perjalanan cinta di sebuah dunia bernama Ahimsa. Dengan kreatif, tim Taraksa yang sebagian sama-sama dari SMA 3 Bandung dan seangkatan dengan saya, membuat dunia yang berbudaya dan seakan-akan benar-benar ada. Pakaian, bahasa, gerak-gerik, salam, dibuat sedemikian rupa hingga orang menyebut “tidak dapat diterka dari mana inspirasinya”, walau saya sendiri langsung teringat akan suku Indian di Amerika ketika melihat kostum penduduk Ahimsa yang berkeliling di sekitar penonton sebelum teater dimulai.

IMG_0239Stand makanan dan pernak-pernik pun tak lupa disediakan di area teater.

IMG_0247Ceritanya? 7/10. Kisah tak tersampaikan, Chiandra yang “mengubah” hidup Taraksa kemudian menghilang sehingga bisa dikategorikan sebagai manic pixie dream girl (maaf kalau sok tahu haha), dan petualangan memang formula yang hampir selalu manjur. Namun, kekuatan teater adalah penceritaan. Ide sederhana dapat begitu menyentuh jika dilakukan dengan tepat.

Teater Epik membuktikannya dengan cara melibatkan penonton, properti keren, musik apik, dan pencahayaan yang hampir tanpa cela. Saya paling suka adegan ikan-ikan Kordi di bagian paling akhir. Hanya dengan topeng dan buih-buih udara, saya langsung terbayang suatu tempat di dalam air dan ikan-ikan yang berenang-berenang. Tim Teater Epik pun terlihat sangat bahagia pada akhir pentas Taraksa terakhir ini.

IMG_0395Tak lupa, kami berfoto dengan pemeran, walaupun hanya dua tokoh utama: Chiandra yang jelita dan Balu yang ternyata sekelas CI juga, hahaha

IMG_0456

IMG_0461Akhir kata, saya sangat berharap keinginan tim Teater Epik terkabul: Teater Tertutup Dago Tea House kembali menjadi teater seperti yang seharusnya.

I promised myself to post what I did in my Celup Ikat/Tie Dye class if I passed this one. I would like to post many more of my works, but I haven’t took any photo of it and I haven’t take them back from Kriya Tekstil department.

So, here they are, the mid-exam task. We have to make a tie-dye motives from 2 m x 1 m cotton cloth with at least 3 techniques that had been taught before.

2012-10-23 15.19.13-2

2012-10-23 16.23.32-3

The results. The first photo is the one I planned. But, when my friend Riza accidentally put the cloth in wrong way, I thought, damn, it’s much better than what I planned! LOL.

Dried.

I love this class. It’s refreshing and fun. The teachers are nice, too!

xoxo

N.

Jadi saya dan teman-teman ke sini tanggal 15 Agustus 2012, setelah mendatangi sidang Fanny. Rocca ini letaknya di jalan gaul penuh kafe unyu agak dadakan alias di Jalan Progo no 16 Bandung. Suasana dan interior dari restoran ini nyaman banget, penuh kayu-kayuan dan bata. Bangunannya juga dibatasi dengan kaca sehingga kita masih bisa melihat ke arah luar (walaupun isinya mobil-mobil doang sih haha).

Terdapat beberapa pilihan tempat, ada yang di sebelah kaca seperti gambar di bawah, di dalam yang ala cafe-cafe dengan sofa empuk, ada yang dalam meeting room, dan ada juga di daerah belakang yang lebih luas. Secara keseluruhan, interiornya bikin ngerasa nyaman dan homy.

diambil dari blog Ceritaperut (klik gambar untuk menuju sumber)

Soal makanan? Ada western dan asian cuisine. Harganya bervariasi, tapi bagi saya ini tergolong restoran untuk mamacan/mamajel alias makan-makan cantik/makan-makan jelek alias bukan buat tiap hari. HAHAH. Jadi harga makanannya di atas Rp 20.000 dengan porsi yang super kenyang!

Salah satu resolusi saya adalah mencoba Thai Tea di setiap restoran. Kalo tidak salah, harganya sekitar Rp 21.000 alias IDR 21 layaknya harga makanan di mal Jakarta. Gelasnya gede banget dan isinya juga banyak. Kenyang alias wareg!

Ini Chicken Kiev seharga Rp 36000 pesanan teman saya. Semacam cordon bleu dengan sayur dan kentang yang patut dicoba.

Kalo ini pesanan saya Fish and Chips (Rp38000 kalo ga salah). Porsinya super buanyaaaaak sekali. Enak banget pula ditambah dengan mayonesnya. Kenyaaaang :9 Recommended!

Spaghetti Andhari (ga tau nama sebenarnya apaan haha)

Summer Cake dari WPBites kalo ga salah sekitar 35ribu. Rasanya semacam bubble gum gitu. Unik dan dilengkapi dengan cream cheese yang selalu bikin semua kue terasa lebih lezat.

Sekian dulu foto-foto pornonya. Saya merekomendasikan Rocca buat yang suka mamacan, karena porsinya gede! Hahaha *dangkal. Tapi dibandingkan dengan kafe unyu mahal tapi porsinya dikit, Rocca ini amat sangat worth it! Terima kasih untuk Fanny si sarjana manajemen yang telah menjadi sponsor mamacan ini 😉

Selamat makan!

N, harusnya ngerjain TA.