Archive

Wanderlust

This very late post is about a project for Dea’s 22nd birthday on December 2013. Hahahaha. I know it is supeeeeeeeeeer late!! As usual, we discussed what to give for each other birthday and because Dea loves postcards, postcards it is! But of course, our postcards will not be ordinary. It will be from us, sent from Photoshopland from different places on Earth!

So each of us went to our dream places, took photos, and make a postcard out of it! These are our postcards, from the west to the east, started from Vienna, Amsterdam, Paris, Madrid, Venice, Santorini, Moscow, Madinah, and Tokyo, we have come to Dea’s house to say “HAPPY BIRTHDAY!”.

tifagitariza

agast

bobi

aing

sasrikartu-madinah

karinAt first I am afraid that the project will be failed or something but it turns out really good! Someday we all visit those cities, okay?! And not only on Photoshopland hahahah.

xoxo

N

Advertisements

To travel is to learn.

The last time I wander very far from home left me so many things to contemplate. That last time was the first time I feel differences is what makes us rich. That was the wanderlust changing you from inside and reflected on your outside. And it could be from anywhere you walk. There is no such thing as fruitless journey.

To travel is to left you craving for more.. but sometimes there are borders you can’t cross, so you need companions.

To travel is to let you see the big picture you have missed all the time.

“In travel, a companion. In life, compassion” – Japanese proverb

Would you, please?

xoxo

N

“Titip bilangin ya ke panitianya, kata teman saya orang luar negeri, angkot itu sangat mewah. Bisa dicegat dan diberhentikan di mana saja. Di luar negeri yang sistem transportasinya bagus, mana bisa penduduknya berlaku seperti itu.”

“Wah, Angkot Day ini menarik sekali! Semoga berhasil ya! Saya dukung sekali, saya ingin transportasi di Bandung seperti di luar negeri!”

“ANGKOT GRATIS ANGKOT GRATIS! DAGO ULANG TAHUN ANGKOT GRATIS YEUUH!”

“Sok saya dukung pisan ini program, saya mah rela bayar juga asal nggak ngetem dan tepat waktu dan nggak macet”

“Terima kasih ya angkot gratisnya! Semoga sukses dengan risetnya ya Mbak!”

Kata-kata di atas adalah pesan-pesan yang saya dapatkan ketika saya menjadi relawan #AngkotDay tanggal 20 September 2013 lalu. #AngkotDay adalah sebuah riset yang diprakarsai Riset Indie untuk memberikan kesadaran mengenai pentingnya transportasi publik di kota Bandung. Selama satu hari, angkot jurusan Kalapa-Dago digratiskan! Pertama kali mendengar #AngkotDay ini, saya langsung tertarik dengan konsepnya. Dari dulu saya mengidamkan adanya MRT/Mass Rapid Transportation alias kereta cepat yang bisa lewat dekat rumah. Yah, pokoknya transportasi publik yang nyaman, aman, dan tentu saja murah. Huahahaha.

Info mengenai #AngkotDay bisa dilihat di http://angkotday.info/ 😀

Pengalaman menjadi co-driver ini sungguh sangat berharga. Saya belajar banyak dari supir angkot, penumpang, maupun sesama relawan. Karena saya memilih shift pagi, saya berangkat subuh dari rumah dan langsung dipasangkan (cie) dengan seorang bapak supir angkot. Dari jam 05.30-11.30, saya bolak-balik Kalapa-Dago hingga 4 kali! Ternyata duduk saja bisa capek sendiri, belum lagi harus berinteraksi dengan para penumpang dan mensosialisasikan program #AngkotDay.

Nah, dari 4 rit yang dijalani, saya berpetualang dengan 3 supir saja karena pada rit 3 dan 4 saya berpasangan supir yang sama :””> aw romantisnya. Kesan setiap supir berbeda-beda, tentu saja. Nah, berikut adalah rangkuman dari apa yang saya dapatkan selama perjalanan.

  1. Supir Angkot. Semua supir yang menjadi jodoh saya senang dengan adanya #AngkotDay ini, terutama dengan adanya kompensasi uang (sehingga angkot bisa digratiskan). Jika disuruh memilih antara sistem setoran (yang berbeda-beda untuk setiap juragan angkot yaitu kisaran Rp90.000,00-Rp150.000,00) dan digaji tetap, ternyata gaji tetap lebih dipilih. Kisaran umur supir angkot pun sangat bervariasi, ada yang di bawah 30 tahun, 40 tahun, hingga 60 tahun. Salah satu supir yang menjadi “jodoh” saya adalah bapak-bapak berumur 60 tahun lebih yang memang dari dulu sudah menjadi supir angkot. Satu angkot pun bisa memiliki dua supir yang memiliki jam kerja bergantian.
  2. Ngetem. Salah satu sasaran dari riset #AngkotDay ini adalah melihat bagaimana efek jika angkot tidak ngetem selama seharian. Kenapa? Karena salah satu penyebab orang malas naik angkot adalah ketepatan waktunya yang sangat tidak dapat diandalkan. Padahal, angkot ngetem karena kurang penumpang. Lingkaran setan banget kan? Setelah mencoba angkot-tanpa-ngetem kemarin itu, memang perjalanan angkot menjadi cepat. Walaupun mungkin saja memang karena belum jam sibuk. Rit 1 hanya sejam, rit 2 1,5 jam, dan rit 3 dan 4 lebih lama lagi karena mobil-mobil sudah mulai banyak keluar. Ketika ditanya mengapa ngetem, tentu saja jawabannya mudah ditebak: setoran (walaupun ada supir yang mengaku tidak pernah ngetem (Y)) Setoran yang tetap dengan jumlah penumpang yang tidak tetap pun akan membuat supir angkot harus menghitung pengeluaran bensin, setoran, perawatan, dan sebagainya secara teliti. Selain jumlah penumpang yang tidak tentu, mereka juga berkomentar mengenai para wisatawan luar kota yang membawa kendaraan pribadi, yang biasanya memenuhi Bandung pada akhir pekan sehingga menyebabkan kemacetan. Cicilan motor yang murah pun menjadi salah satu sumber keluhan mereka. Yup, motor yang bisa dibeli dengan mudah menyebabkan penumpang berkurang dengan drastis.
  3. Jam Kerja. Jam kerja untuk setiap jurusan memang berbeda-beda. Ada yang jam 8 malam sudah tidak berkeliaran, namun ada juga yang 24 jam (eh ada nggak ya?). Ternyata, jam kerja untuk setiap supir angkot pun berbeda-beda, karena ditentukan oleh kesepakatan dengan juragan. Bapak supir pertama yang memang sudah berumur lebih dari 60 tahun, mengaku hanya bekerja dari pagi hingga jam 16.00 karena sudah “tidak kuat”. Sementara untuk angkot yang memiliki dua supir tentu sesuai dengan kesepakatan antara mereka berdua, biasanya dilakukan pergantian berdasarkan hari. Lalu, mereka juga memiliki istilah untuk jam kerja, misalnya “jam tanggung” untuk jam 09.00-11.00 dan 13.00-15.00, di mana penumpang sangat sedikit. Jam sibuk adalah jam pulang pergi sekolah dan kerja, yaitu sekitar pukul 06.00-09.00 dan 15.00-17.00.
  4. Penumpang. Secara umum, penumpang pada hari biasa memang kebanyakan perempuan. Menurut analisis sotoy saya, kemungkinan karena kebanyakan para pria sudah beralih ke motor karena cicilan motor semakin mudah dan murah. Penumpang pada saat #AngkotDay bervariasi. Ada yang memang rutin menggunakan dan ada yang memang menggunakan Kalapa-Dago untuk sekadar berekreasi karena gratis. Interaksi dengan penumpanglah yang sangat menarik, karena ketika saya menjelaskan mengenai #AngkotDay ini, sebagian besar terlihat antusias. Bahkan ada segerombolan anak SMP yang begitu tahu saya adalah relawan, langsung bertanya ini itu. Hihihi. Saya mendapat banyak wejangan dari penumpang, salah satunya seperti yang saya tulis di atas. Interaksi juga mengenalkan saya dengan lebih banyak tipe orang yang tidak dapat saya temui di tempat saya beraktivitas sehari-hari. Misalnya adalah orang-orang yang (sepertinya) buta huruf karena mereka menolak mengisi kuesioner yang saya bagikan namun bersedia ketika saya tawarkan untuk membacakan kuesionernya. Lalu ada yang seumuran saya namun pendidikan terakhirnya adalah SD. Pengalaman dengan penumpang membuat saya lebih menyadari keadaan dan kenyataan yang ada di Bandung. Wish I can solve those problems! Hal yang menarik lainnya adalah ada beberapa penumpang yang berterima kasih pada saya karena angkotnya jadi gratis! Hahahaha!
  5. Sistem Angkot. Ini banget sih yang paling bikin gemes. Mungkin karena saya dekat dengan orang yang mengerti mengenai transportasi (babeh maksudnya, hahahaha). Menurut beliau, Bandung memang sudah tidak cocok dengan sistem angkot karena sudah menjadi kota dengan lebih dari satu juta penduduk. Paling efektif itu MRT, kalau nggak ya bus kota deh minimal. Masalahnya adalah sistem! Walaupun ada yang bilang menyalahkan sistem itu tidak baik, minimal kita tahu deh akar masalahnya dari mana. Dari pengamatan saya pribadi dengan beberapa pengetahuan dari babeh, sistem angkot di Bandung dan Indonesia adalah swasta, di mana juragan angkot bisa memiliki angkot berapapun selama ada modal dan izin. Setiap angkot memiliki supirnya masing-masing yang menjadi supir, teman, perawat, dan sebagainya bagi angkot tersebut. Mungkin memang lebih baik semua angkot dikelola langsung oleh pemerintah dengan para “juragan” sebagai penanam modal kali ya.. (Tapi itu hanya ide sotoy saja sih, belum menggunakan metode ilmiah balabala untuk dibuktikan hahaha)
2013-09-20 07.09.05

Pemandangan dari kursi Co-Driver

Yah, mungkin itu sebongkah dua bongkah pengalaman saya menjadi Co-Driver di #AngkotDay. Menyenangkan sekali! Dengan adanya program ini, penduduk Bandung menjadi sadar akan pentingnya angkot. Usul saya (atau memang sudah direncanakan?), adakan lagi #AngkotDay, namun jangan gratis dan tetap tidak ngetem, karena itulah keadaan sebenarnya di lapangan. Diharapkan kita bisa benar-benar mendapatkan keadaan lapangan sebenarnya untuk membangun solusi yang tepat bagi sistem transportasi publik di Bandung.

xoxo

seorang penduduk Bandung sejati

N

Sebelum saya datang ke Jalan Bali nomor 7 sesuai dengan arahan dari Mbak Dina, saya teringat sebuah artikel Kompas Minggu yang membahas rumah-rumah inspiratif dan saat itu yang dimuat adalah sebuah rumah di Jalan Bali. Rumah tersebut milik seorang peraih Piala Citra Mak Gondut yang muncul di film Demi Ucok. Saya tahu rumah yang sedang dibahas tersebut, karena saya sering melewatinya ketika masih SMA dulu di Jalan Belitung. Rumah tersebut selalu terlihat asri dan rindang.

Lalu dengan menghubung-hubungkan rumah tersebut, Mbak Dina, dan kreativitas dan inovasi, saya menebak ini ada hubungannya dengan film Demi Ucok itu. Kebetulan saya sudah tahu sebelumnya mengenai film tersebut karena saya tergabung di Liga Film Mahasiswa ITB dan sutradara film tersebut dulunya juga tergabung di unit yang sama 😀

Ternyata, prediksi saya benar! Fufufuu. Baru saja saya sampai di depan rumah itu, saya sudah melihat Mak Gondut sedang akan berjalan-jalan dengan anjingnya.

Singkat kata, akhirnya kami berkumpul di lantai atas rumah Mbak Sammaria Simanjuntak, sang sutradara Demi Ucok. Rumah tersebut memang unik, pantas saja masuk Kompas. Rumah itu juga menjadi headquarter untuk PT. Kepompong Gendut, rumah produksi milik Mbak Sammaria dan kelima temannya.

Hal yang menarik dari kunjungan ke sana adalah bahwa jumlah anggota sedikit dan markas yang berupa rumah tinggal tidak menghalangi kreativitas mereka. Saat ini sudah ada dua film layar lebar, cin(T)a dan Demi Ucok, beberapa iklan, video klip, dan serial televisi yang akan tayang.

Kepompong Gendut juga pernah menjalankan proyek iklan dari Google tentang ide-ide di masyarakat (tapi belum nemu nih link-nya, haha). Sebagai UKM yang telah menjadi PT demi meluncurkan film-film mereka di bioskop ternama, Kepompong Gendut menjaga lingkungan kerjanya agar tetap nyaman dan tenang dan menghasilkan ide-ide kreatif lainnya.

PT. Kepompong Gendut membuktikan bahwa kreativitas dapat ditemukan di mana saja.

xoxo

Two days ago, 24th of May 2012, my friends (Melati aka Bobi and Agas) and I went to Bank Indonesia to arrange matters of our internship. Um, it’s not really internship because we do it for credits, but I don’t know what is the word for “praktik kerja lapangan” or “kerja praktik” in English so I’ll continue with “internship”.

We have sent our CVs and made arrangements with the Departments of Information Systems Management months ago; big thanks to my aunt and her friend Bu Hilzahra. We had enough of waiting e-mails from both HR departments and DISM, ahaha.

So, we have arranged an appointment with Pak Keri from DISM to discuss about our works. We will do a BIG project. A VERY BIG ONE, because it will affect many integrated applications from all the bank in Indonesia. It was all about XML, syntax, semantics, XBRL and many more terms that I have not heard before. The head of the project team, Bu Iris, was very kind. She gave us e-book XBRL for dummies for us to learn.

But it was not the biggest thing that interest us. It was the buildings! See the picture below to see the whole complex of the buildings.

Kompleks Bank Indonesia dari Google Earth, 2009, (via Paul Paais’s blog)

There were so great as if in our dreams. See the whole project of the towers development which held in 1999-2001 here.

And as potterheads, three of us see the building as Ministry of Magic. There was a fountain, a big field (like a Quidditch field), many elevators (like the fireplaces with green flame in Ministry of Magic), and a big and comfortable mosque! Unfortunately, I really forgot to take a picture, beside I was too shy to do that :p

Well, I will write more about the building (ahaha I was to amazed by the architecture) and the internship, maybe.

Post to you later!

N.

Last night I went dinner with my junior high friends. I am lucky I still have a very good relationship with them, since I never see anyone still keeping contact with their junior high friends.

It was my first Saturday night ever. Usually, I was home, seeing updates from social medias (how pathetic).

We met at Hartwood. I was craving a cake but unfortunately it was sold out when I came. So I ordered a chocolate cake. Fellyn told me to take a photo of my dinner before I ate them so this photo is what I ate last night. I am a “Eat it, not tweet it”ism but I broke my own law only for that night. I forgot the name, it has Alfredo in its name. Image

It was the biggest expense I ever had for a dinner (well Progo reastaurants are pricey!), but my tummy was so full in the end of the meeting. Cake, ice tea, and this Alfredo.

It was nice to see my friends. I really love you all :D

N.

Today is already 29th of February and in less than three hours it will be the first of March and I want to write about this rare day! Haha.

So it began with some lectures about project management and information resources management which I didn’t really put my attention for unknown reasons. The I took a quiz of Interpersonal Communication subject which answers are must be exact same like on the slide. I hate that kind of quiz because it is kind of… close-minded.

Then I did a presentation about Flash program I have made several days ago. After that, I went to take my cupcakes (red velvet!!!) and went to SMA Negeri 19 Bandung. I had to do some survey with Agas and Budi about Information Systems Planning subject.

Well, the survey was done swiftly. The teacher, Mr. Iman was very nice to us.

On the way out, a problem occurred. My dad’s car had small collision with a small stem and now a bot of the car is dented. I felt afraid of my dad, even though he never really angry to me about that. I also felt so guilty to my friend Budi. He seems cool, but deep down inside he was very afraid too.

The next “trip”, we went to Tirta Anugrah for our Enterprise Information Systems and Information Systems Management tasks. The boss was there, but was resting when we came. So we tried BMG (Bumi Medika Ganesha) and Wisma Dago. It was also a failure.

We moved to Celebrate. They had enormous numbers of things, but we couldn’t see any employers. So we move to a restaurant named Warung Garem-Garem which located not far from Celebrate.

AND THANK GOD WE CAN DO THERE!

Hahaha. The manager was so kind and open about our tasks. Mainly because he had been the source of many ITB students tasks. We learnt so much there. Next time, we should buy something from that Warung Garem-Garem. The restaurant itself is looking interesting.

We were so tired when we finally arrived on campus. I also had Saman Dance rehearsal this night so I couldn’t come home early 😦 But the rehearsal was fun, though. We all hope that on 2nd of March on 17:00 it will be sunny. Aameen 🙂

I don’t know why but I thnik this day is those we should be grateful to. Maybe because I was reminded by one of my senior about my dream. He sent me a link about internship in Pixar!!!!! I can’t recall about telling him that dream, so I am really surprised he knows and remembers about it. although I can’t apply to it, I really thank him for that.

So, that was my story.

Happy Leap Day!

-N