Archive

Wanderlust

Wow. Hari terakhir di 2017. Sebelum hari ini berakhir, saya ingin berbagi memori mengenai salah satu hari paling Patronusable di tahun 2017, tepatnya tanggal Sabtu, 15 April di mana saya jalan-jalan keliling Kyoto dengan empat teman sambil memakai kimono. Kok tumben baik amat mau berbagi? Ehe. Soalnya pada hari itu, banyak turis Indonesia dan Malaysia yang melihat kami dan bertanya di mana kami menyewa kimono, berapa, sampai kapan, dsb. Berhubung sepertinya promo ANA dan JAL ke Jepang pp 4,5 jutaan belum akan berakhir dan berakibat turis Indonesia ke Jepang pun akan makin membludak, yah siapa tau postingan ini sampai juga ke orang-orang yang tertarik keliling Kyoto menggunakan kimono.

Mending sewa di kota mana? Dengan argumen “Kyoto tuh kayak Jogja-nya Indonesia, budaya Jepang-nya masih kental, ga kota banget kayak Tokyo dan Osaka“, akhirnya kami memutuskan bakal sewa di Kyoto saja. Ternyata keputusan yang tidak salah, saudara-saudari! Dari ketiga kota tersebut yang kami kunjungi (empat kalau Nara dihitung), memang kota yang dengan populasi pemakai kimono paling banyak tuh di Kyoto. Bukan hanya turis, banyak juga orang Jepang–kebanyakan cewek-cewek–yang jalan-jalan pake kimono. Kalo cowok, biasanya pake kimono pasangan, nemenin ceweknya. Dari 8 harian di sana, kayaknya ga pernah sih lihat geng cowok doang pake kimono jalan-jalan keliling kota, kecuali mungkin turis mancanegara.

IMG_0313 - Copy.JPG

Berdasarkan pengamatan, tiga dari tujuh penduduk Kyoto memakai kimono setiap harinya (survei ngasal). *If you happen to be one of the subject of this photo and you mind this photo to be published, please contact me immediately, I’ll remove it*

Lalu apa yang harus dilakukan selanjutnya? Sebetulnya, tempat sewa kimono BANYAK BANGET ternyata di sana, terutama di tempat wisata kayak Kiyomizu-dera. Jadi ga perlu khawatir dan maksa banget harus di Yumeyakata, karena sebetulnya si Yumeyakata ini cukup jauh dari tempat wisata populer. Cuma emang kelebihan Yume (biar cepet) adalah:

  • Relatif murah (total ngeluarin 3900an yen, dan di tempat sewa kimono yang ada di tempat wisata biasanya 5000-6000 yen).
  • Situsnya ada bahasa Indonesianya: https://www.id-kyoto.yumeyakata.com/cara-melakukan-reservasi
  • Banyak staf internasional. Saya udah berharap ada staf Indonesia, tapi waktu itu sih ga ada. Cuma ada staf Malaysia (di name tag staf ada benderanya) yang ngerti-ngerti dikit, ngasih rekomendasi obi yang cocok 😀
  • Pilihan warna kimono-nya lebih sesuai sama selera haha. Kalo di tempat sewa kimono yang lain kayaknya banyak yang warnanya ngejreng banget, motif bunganya gede-gede, dan sebagainya. Nah di Yume ini banyak pilihan warna yang lembut dan motif bunganya kecil-kecil (penting banget ye)

Kalau sudah mantap ke Yume, hal yang harus dilakukan selanjutnya adalah:

  1. Reservasi. Wah setelah saya cek sekarang, situsnya udah lebih canggih dan ramah untuk orang Indonesia! Dulu tuh UI-nya khas situs Jepang, more is more, jadi foto di mana-mana. Sekarang kayaknya udah jelas banget, klik aja link ke formulir dan bisa langsung liat aja informasinya semua di situ.yume2
  2. Isi formulir. Bisa pilih paket, berapa orang, tanggal, dan isi data kita. Waktu itu kami pilih Kimono Rental Plan yang 3500 yen seorang. Dengan pajak dan sebagainya, total bakal jadi sekitar 3900 yen. Ini paket yang paling murah meriah dan simpel. Pinjem kimono, jalan-jalan, balikin paling lambat jam 19.30! Banyak juga paket yang bersama fotografer profesional.
  3. Terima e-mail konfirmasi. Kira-kira kayak begini. Kita ga usah bayar apa-apa dulu kok. Bayarnya langsung di sana. Oh iya, jangan lupa simpen screenshot e-mail ini, jaga-jaga kalau di sana ga ada internet.yume1

 

Lalu, pada hari H, apa yang harus dilakukan? Langsung datang saja sesuai jam. Nanti pas datang, langsung dikasih formulir yang harus diisi dan diminta kasih liat e-mail reservasi, dan dikasih tas kain untuk masukin barang-barang. Nanti tunggu dipanggil sama stafnya, dan disuruh naik ke lantai 2. Tiap lantai itu ada fungsinya masing-masing yang bakal saya ceritakan, dan walaupun customer-nya banyak, layanannya cepet dan profesional banget dan ga pake ngantri! Oh iya, ingatan saya juga campur aduk sih jadi mungkin beberapa detail agak ngaco dan ga sesuai sama keadaan sebenarnya, tapi semoga ga terlalu banyak ya ngaconya! Haha.

IMG_6219.JPG

Yumeyakata. Fakta remeh: kanji yang dipakai 夢 (yume), artinya mimpi.

Di lantai 2, bakal udah mulai dibedain wanita dan pria. Di lantai ini pula langsung disuguhin bermacam-macam kimono warna-warni. Ga hanya kimono, ada juga obi, dalaman, hiasan rambut, dan sebagainya. Sebagian besar sudah termasuk paket Kimono Rental Plan (kimono, dalaman, obi, hiasan rambut). Karena saya emang sudah bertekad dari tahun lalu untuk memakai berjalan-jalan memakai yukata hitam seharian, saya udah pakai kerudung hitam dari airbnb tempat kami nginep. Nah itu sih tips pertama saya: kalau kamu berhijab/pake kerudung dan udah tau mau pake kimono warna apa, pastikan kerudungnya udah sesuai 😀

Setelah staf yang bertanggung jawab sama kita nentuin ukuran kimono yang pas, ngasih rekomendasi obi yang cocok, dan sebagainya, kita bakal langsung disuruh bayar (nah ini sih yang lupa-lupa ingat urutannya). Berhubung saya dan teman-teman pakai kerudung semua, jadi ga perlu cari hiasan rambut. Setelah bayar 3500 yen + 8% pajak, kita disuruh ke lantai atas.

Di lantai 3, sudah ada beberapa wanita yang cukup senior aka cukup tua yang cekatan menunggu. Yes, ini kamar ganti! Sempet agak self-conscious karena dikelilingi cermin di sekitar, kita semua disuruh lepas baju. Iya, beneran lepas baju, jadi ya tinggal dalaman saja haha. Karena emang paketnya lengkap dengan dalaman. Jadi buat yang ngerasa ga nyaman buka baju di depan orang banyak (perempuan semua), ya mungkin pikirin lagi aja hehe. Atau mungkin kalau bisa bahasa Jepang bisa nego dikit sama ibu-ibunya..

Staf ibu-ibu yang bertugas bantuin ganti baju bakal dengan cekatan bantuin pasang dalaman, kimono, obi, dan sebagainya. Ternyata, pakai kimono juga ga sembarangan kayak kebaya yang tinggal pakai. Obinya harus kenceng banget, saya ampe sesak pas stafnya tarik-tarik dan kencengin si obi. Setelah selesai semuanya, langsung ambil tabi (kaos kaki) sesuai ukuran dan lanjut ke lantai atas. Berhubung semuanya pakai kerudung dan ga pakai hiasan apapun, jadi langsung lanjut ke lantai atas. Tapi mungkin buat yang rambutnya bakal dihias, bakal tetap berada di lantai 3 buat rias dan hias rambut. Oh iya, satu tips lagi buat yang pakai kerudung: lengan kimono memang panjang, tapi didesain supaya lengan bagian dalam juga kelihatan. Jadi kalo megang pegangan di bis pasti lengan kamu bakal keliatan ke mana-mana. Karena itu, bawa manset yang cukup panjang kalau kamu ga nyaman dengan hal tersebut. Kalau di Memoirs of Geisha, dibilang kalau bagian lengan dalam adalah salah satu bagian yang seksi gitu lah ga ngerti lol.

Di lantai 4, waktunya milih tas. Pilihan tasnya cukup banyak dan kelihatannya bisa dibeli juga di lantai bawah, atau juga banyak di tempat jualan souvenir. Staf yang ada juga bakal ngasih rekomendasi cocok atau ga sama kimononya, hahaha. Selama seharian, kita bakal pakai tas ini doang (ga lucu kan pakai kimono tapi bawa ransel wkwk), jadi pilih tas sesuai apa yang mau dibawa dan sesuaikan juga apa yang mau dibawa supaya ga terlalu banyak dan ngeberatin diri sendiri.

Masih di lantai yang sama (kayaknya, lupa), ada penitipan barang. Semua barang bakal dititipin dan bakal dikasih nomor barang. Jangan sampai lupa ya! Habis itu, balik deh ke lantai paling bawah dan milih bakiak.

Setelah itu, bebas! Maksimal pengembalian jam 19.30 kalau ga mau kena denda. Di lantai bawah juga ada rekomendasi tempat wisata dan cara menuju ke sana. Kalau kami, itinerary-nya antara Arashiyama, Fushimi Inari, dan Kiyomizu-dera. Setelah berbagai pertimbangan, langsung ke Fushimi Inari dan Kiyomizu-dera. Capek polllllll karena nanjak! Kaki rasanya kayak langsung langsing bagaikan girlband Korea. Tapi ga sih huhu :(. Walaupun capek, sepertinya Fushimi Inari dan Kiyomizu-dera pilihan yang tepat untuk foto-foto pakai kimono. Kenapa? Karena pas besoknya ke Arashiyama.. Yah, namanya juga hutan bambu, jadi cukup redup pencahayaannya. Bagus sih kalo di deket sungainya. Kalau di Kiyomizu-dera, banyak tempat terbuka yang terkena sinar matahari jadi bakal lebih puas untuk foto-foto.

Lalu bagaimana cara ngembaliinnya? Setelah berlomba dengan waktu, akhirnya kami sampai di Yume lagi jam 19.00an. Kita bakal langsung disambut sama ibu-ibu yang bantuin pakai kimono lagi buat lepasin semuanya. Terus namanya juga ibu-ibu sih ya, lagi lepas baju gitu juga tetap aja suka ngajak ngobrol. Pakai bahasa Jepang. Untung ngerti-ngerti dikit sih, standar juga yang ditanyain, kayak: “Genki? (Sehat?)”, “Doko kara desu ka? (Dari mana saja?)”, “Mareshia? (Dari Malaysia?)”, dsb. Tapi lagi super self-conscious terus ditanya-tanya gitu kan ya jadi deg-degan (naon).

Dan inilah beberapa foto contoh kimono yang ada di Yume jika penasaran… (alias foto kami hahahaha, credits to kamera Tifa dan kak Karina sebagai sang fotografer pribadi)

photo6217664639790065771photo6217664639790065770photo6217664639790065772

Selesai! Semoga bermanfaat! Semoga Yumeyakata kasih komisi ke saya! Amin!

xoxo

N

*If you happen to be one of the subject of the photo on this post and you mind this photo to be published, please contact me immediately, I’ll remove it*

Advertisements

This very late post is about a project for Dea’s 22nd birthday on December 2013. Hahahaha. I know it is supeeeeeeeeeer late!! As usual, we discussed what to give for each other birthday and because Dea loves postcards, postcards it is! But of course, our postcards will not be ordinary. It will be from us, sent from Photoshopland from different places on Earth!

So each of us went to our dream places, took photos, and make a postcard out of it! These are our postcards, from the west to the east, started from Vienna, Amsterdam, Paris, Madrid, Venice, Santorini, Moscow, Madinah, and Tokyo, we have come to Dea’s house to say “HAPPY BIRTHDAY!”.

tifagitariza

agast

bobi

aing

sasrikartu-madinah

karinAt first I am afraid that the project will be failed or something but it turns out really good! Someday we all visit those cities, okay?! And not only on Photoshopland hahahah.

xoxo

N

To travel is to learn.

The last time I wander very far from home left me so many things to contemplate. That last time was the first time I feel differences is what makes us rich. That was the wanderlust changing you from inside and reflected on your outside. And it could be from anywhere you walk. There is no such thing as fruitless journey.

To travel is to left you craving for more.. but sometimes there are borders you can’t cross, so you need companions.

To travel is to let you see the big picture you have missed all the time.

“In travel, a companion. In life, compassion” – Japanese proverb

Would you, please?

xoxo

N

“Titip bilangin ya ke panitianya, kata teman saya orang luar negeri, angkot itu sangat mewah. Bisa dicegat dan diberhentikan di mana saja. Di luar negeri yang sistem transportasinya bagus, mana bisa penduduknya berlaku seperti itu.”

“Wah, Angkot Day ini menarik sekali! Semoga berhasil ya! Saya dukung sekali, saya ingin transportasi di Bandung seperti di luar negeri!”

“ANGKOT GRATIS ANGKOT GRATIS! DAGO ULANG TAHUN ANGKOT GRATIS YEUUH!”

“Sok saya dukung pisan ini program, saya mah rela bayar juga asal nggak ngetem dan tepat waktu dan nggak macet”

“Terima kasih ya angkot gratisnya! Semoga sukses dengan risetnya ya Mbak!”

Kata-kata di atas adalah pesan-pesan yang saya dapatkan ketika saya menjadi relawan #AngkotDay tanggal 20 September 2013 lalu. #AngkotDay adalah sebuah riset yang diprakarsai Riset Indie untuk memberikan kesadaran mengenai pentingnya transportasi publik di kota Bandung. Selama satu hari, angkot jurusan Kalapa-Dago digratiskan! Pertama kali mendengar #AngkotDay ini, saya langsung tertarik dengan konsepnya. Dari dulu saya mengidamkan adanya MRT/Mass Rapid Transportation alias kereta cepat yang bisa lewat dekat rumah. Yah, pokoknya transportasi publik yang nyaman, aman, dan tentu saja murah. Huahahaha.

Info mengenai #AngkotDay bisa dilihat di http://angkotday.info/ 😀

Pengalaman menjadi co-driver ini sungguh sangat berharga. Saya belajar banyak dari supir angkot, penumpang, maupun sesama relawan. Karena saya memilih shift pagi, saya berangkat subuh dari rumah dan langsung dipasangkan (cie) dengan seorang bapak supir angkot. Dari jam 05.30-11.30, saya bolak-balik Kalapa-Dago hingga 4 kali! Ternyata duduk saja bisa capek sendiri, belum lagi harus berinteraksi dengan para penumpang dan mensosialisasikan program #AngkotDay.

Nah, dari 4 rit yang dijalani, saya berpetualang dengan 3 supir saja karena pada rit 3 dan 4 saya berpasangan supir yang sama :””> aw romantisnya. Kesan setiap supir berbeda-beda, tentu saja. Nah, berikut adalah rangkuman dari apa yang saya dapatkan selama perjalanan.

  1. Supir Angkot. Semua supir yang menjadi jodoh saya senang dengan adanya #AngkotDay ini, terutama dengan adanya kompensasi uang (sehingga angkot bisa digratiskan). Jika disuruh memilih antara sistem setoran (yang berbeda-beda untuk setiap juragan angkot yaitu kisaran Rp90.000,00-Rp150.000,00) dan digaji tetap, ternyata gaji tetap lebih dipilih. Kisaran umur supir angkot pun sangat bervariasi, ada yang di bawah 30 tahun, 40 tahun, hingga 60 tahun. Salah satu supir yang menjadi “jodoh” saya adalah bapak-bapak berumur 60 tahun lebih yang memang dari dulu sudah menjadi supir angkot. Satu angkot pun bisa memiliki dua supir yang memiliki jam kerja bergantian.
  2. Ngetem. Salah satu sasaran dari riset #AngkotDay ini adalah melihat bagaimana efek jika angkot tidak ngetem selama seharian. Kenapa? Karena salah satu penyebab orang malas naik angkot adalah ketepatan waktunya yang sangat tidak dapat diandalkan. Padahal, angkot ngetem karena kurang penumpang. Lingkaran setan banget kan? Setelah mencoba angkot-tanpa-ngetem kemarin itu, memang perjalanan angkot menjadi cepat. Walaupun mungkin saja memang karena belum jam sibuk. Rit 1 hanya sejam, rit 2 1,5 jam, dan rit 3 dan 4 lebih lama lagi karena mobil-mobil sudah mulai banyak keluar. Ketika ditanya mengapa ngetem, tentu saja jawabannya mudah ditebak: setoran (walaupun ada supir yang mengaku tidak pernah ngetem (Y)) Setoran yang tetap dengan jumlah penumpang yang tidak tetap pun akan membuat supir angkot harus menghitung pengeluaran bensin, setoran, perawatan, dan sebagainya secara teliti. Selain jumlah penumpang yang tidak tentu, mereka juga berkomentar mengenai para wisatawan luar kota yang membawa kendaraan pribadi, yang biasanya memenuhi Bandung pada akhir pekan sehingga menyebabkan kemacetan. Cicilan motor yang murah pun menjadi salah satu sumber keluhan mereka. Yup, motor yang bisa dibeli dengan mudah menyebabkan penumpang berkurang dengan drastis.
  3. Jam Kerja. Jam kerja untuk setiap jurusan memang berbeda-beda. Ada yang jam 8 malam sudah tidak berkeliaran, namun ada juga yang 24 jam (eh ada nggak ya?). Ternyata, jam kerja untuk setiap supir angkot pun berbeda-beda, karena ditentukan oleh kesepakatan dengan juragan. Bapak supir pertama yang memang sudah berumur lebih dari 60 tahun, mengaku hanya bekerja dari pagi hingga jam 16.00 karena sudah “tidak kuat”. Sementara untuk angkot yang memiliki dua supir tentu sesuai dengan kesepakatan antara mereka berdua, biasanya dilakukan pergantian berdasarkan hari. Lalu, mereka juga memiliki istilah untuk jam kerja, misalnya “jam tanggung” untuk jam 09.00-11.00 dan 13.00-15.00, di mana penumpang sangat sedikit. Jam sibuk adalah jam pulang pergi sekolah dan kerja, yaitu sekitar pukul 06.00-09.00 dan 15.00-17.00.
  4. Penumpang. Secara umum, penumpang pada hari biasa memang kebanyakan perempuan. Menurut analisis sotoy saya, kemungkinan karena kebanyakan para pria sudah beralih ke motor karena cicilan motor semakin mudah dan murah. Penumpang pada saat #AngkotDay bervariasi. Ada yang memang rutin menggunakan dan ada yang memang menggunakan Kalapa-Dago untuk sekadar berekreasi karena gratis. Interaksi dengan penumpanglah yang sangat menarik, karena ketika saya menjelaskan mengenai #AngkotDay ini, sebagian besar terlihat antusias. Bahkan ada segerombolan anak SMP yang begitu tahu saya adalah relawan, langsung bertanya ini itu. Hihihi. Saya mendapat banyak wejangan dari penumpang, salah satunya seperti yang saya tulis di atas. Interaksi juga mengenalkan saya dengan lebih banyak tipe orang yang tidak dapat saya temui di tempat saya beraktivitas sehari-hari. Misalnya adalah orang-orang yang (sepertinya) buta huruf karena mereka menolak mengisi kuesioner yang saya bagikan namun bersedia ketika saya tawarkan untuk membacakan kuesionernya. Lalu ada yang seumuran saya namun pendidikan terakhirnya adalah SD. Pengalaman dengan penumpang membuat saya lebih menyadari keadaan dan kenyataan yang ada di Bandung. Wish I can solve those problems! Hal yang menarik lainnya adalah ada beberapa penumpang yang berterima kasih pada saya karena angkotnya jadi gratis! Hahahaha!
  5. Sistem Angkot. Ini banget sih yang paling bikin gemes. Mungkin karena saya dekat dengan orang yang mengerti mengenai transportasi (babeh maksudnya, hahahaha). Menurut beliau, Bandung memang sudah tidak cocok dengan sistem angkot karena sudah menjadi kota dengan lebih dari satu juta penduduk. Paling efektif itu MRT, kalau nggak ya bus kota deh minimal. Masalahnya adalah sistem! Walaupun ada yang bilang menyalahkan sistem itu tidak baik, minimal kita tahu deh akar masalahnya dari mana. Dari pengamatan saya pribadi dengan beberapa pengetahuan dari babeh, sistem angkot di Bandung dan Indonesia adalah swasta, di mana juragan angkot bisa memiliki angkot berapapun selama ada modal dan izin. Setiap angkot memiliki supirnya masing-masing yang menjadi supir, teman, perawat, dan sebagainya bagi angkot tersebut. Mungkin memang lebih baik semua angkot dikelola langsung oleh pemerintah dengan para “juragan” sebagai penanam modal kali ya.. (Tapi itu hanya ide sotoy saja sih, belum menggunakan metode ilmiah balabala untuk dibuktikan hahaha)
2013-09-20 07.09.05

Pemandangan dari kursi Co-Driver

Yah, mungkin itu sebongkah dua bongkah pengalaman saya menjadi Co-Driver di #AngkotDay. Menyenangkan sekali! Dengan adanya program ini, penduduk Bandung menjadi sadar akan pentingnya angkot. Usul saya (atau memang sudah direncanakan?), adakan lagi #AngkotDay, namun jangan gratis dan tetap tidak ngetem, karena itulah keadaan sebenarnya di lapangan. Diharapkan kita bisa benar-benar mendapatkan keadaan lapangan sebenarnya untuk membangun solusi yang tepat bagi sistem transportasi publik di Bandung.

xoxo

penduduk Bandung

N

Sebelum saya datang ke Jalan Bali nomor 7 sesuai dengan arahan dari Mbak Dina, saya teringat sebuah artikel Kompas Minggu yang membahas rumah-rumah inspiratif dan saat itu yang dimuat adalah sebuah rumah di Jalan Bali. Rumah tersebut milik seorang peraih Piala Citra Mak Gondut yang muncul di film Demi Ucok. Saya tahu rumah yang sedang dibahas tersebut, karena saya sering melewatinya ketika masih SMA dulu di Jalan Belitung. Rumah tersebut selalu terlihat asri dan rindang.

Lalu dengan menghubung-hubungkan rumah tersebut, Mbak Dina, dan kreativitas dan inovasi, saya menebak ini ada hubungannya dengan film Demi Ucok itu. Kebetulan saya sudah tahu sebelumnya mengenai film tersebut karena saya tergabung di Liga Film Mahasiswa ITB dan sutradara film tersebut dulunya juga tergabung di unit yang sama 😀

Ternyata, prediksi saya benar! Fufufuu. Baru saja saya sampai di depan rumah itu, saya sudah melihat Mak Gondut sedang akan berjalan-jalan dengan anjingnya.

Singkat kata, akhirnya kami berkumpul di lantai atas rumah Mbak Sammaria Simanjuntak, sang sutradara Demi Ucok. Rumah tersebut memang unik, pantas saja masuk Kompas. Rumah itu juga menjadi headquarter untuk PT. Kepompong Gendut, rumah produksi milik Mbak Sammaria dan kelima temannya.

Hal yang menarik dari kunjungan ke sana adalah bahwa jumlah anggota sedikit dan markas yang berupa rumah tinggal tidak menghalangi kreativitas mereka. Saat ini sudah ada dua film layar lebar, cin(T)a dan Demi Ucok, beberapa iklan, video klip, dan serial televisi yang akan tayang.

Kepompong Gendut juga pernah menjalankan proyek iklan dari Google tentang ide-ide di masyarakat (tapi belum nemu nih link-nya, haha). Sebagai UKM yang telah menjadi PT demi meluncurkan film-film mereka di bioskop ternama, Kepompong Gendut menjaga lingkungan kerjanya agar tetap nyaman dan tenang dan menghasilkan ide-ide kreatif lainnya.

PT. Kepompong Gendut membuktikan bahwa kreativitas dapat ditemukan di mana saja.

xoxo

Two days ago, 24th of May 2012, my friends (Melati aka Bobi and Agas) and I went to Bank Indonesia to arrange matters of our internship. Um, it’s not really internship because we do it for credits, but I don’t know what is the word for “praktik kerja lapangan” or “kerja praktik” in English so I’ll continue with “internship”.

We have sent our CVs and made arrangements with the Departments of Information Systems Management months ago; big thanks to my aunt and her friend Bu Hilzahra. We had enough of waiting e-mails from both HR departments and DISM, ahaha.

So, we have arranged an appointment with Pak Keri from DISM to discuss about our works. We will do a BIG project. A VERY BIG ONE, because it will affect many integrated applications from all the bank in Indonesia. It was all about XML, syntax, semantics, XBRL and many more terms that I have not heard before. The head of the project team, Bu Iris, was very kind. She gave us e-book XBRL for dummies for us to learn.

But it was not the biggest thing that interest us. It was the buildings! See the picture below to see the whole complex of the buildings.

Kompleks Bank Indonesia dari Google Earth, 2009, (via Paul Paais’s blog)

There were so great as if in our dreams. See the whole project of the towers development which held in 1999-2001 here.

And as potterheads, three of us see the building as Ministry of Magic. There was a fountain, a big field (like a Quidditch field), many elevators (like the fireplaces with green flame in Ministry of Magic), and a big and comfortable mosque! Unfortunately, I really forgot to take a picture, beside I was too shy to do that :p

Well, I will write more about the building (ahaha I was to amazed by the architecture) and the internship, maybe.

Post to you later!

N.

Last night I went dinner with my junior high friends. I am lucky I still have a very good relationship with them, since I never see anyone still keeping contact with their junior high friends.

It was my first Saturday night ever. Usually, I was home, seeing updates from social medias (how pathetic).

We met at Hartwood. I was craving a cake but unfortunately it was sold out when I came. So I ordered a chocolate cake. Fellyn told me to take a photo of my dinner before I ate them so this photo is what I ate last night. I am a “Eat it, not tweet it”ism but I broke my own law only for that night. I forgot the name, it has Alfredo in its name. Image

It was the biggest expense I ever had for a dinner (well Progo reastaurants are pricey!), but my tummy was so full in the end of the meeting. Cake, ice tea, and this Alfredo.

It was nice to see my friends. I really love you all :D

N.