Archive

What’s Happening

These latest months was more inspiring to me than many previous months combined. I went to Jakarta almost every week to do my first focus group discussions–which is weird, I have thought that my first FGD would be on my job-seeking time—with great designers, interview great people, and taste the first sip of working with government people. Well, my current job is to write a blueprint of creative industry in Indonesia, focusing on sub sector of design. That is why I have met many great designers and inspired by them all.

The interviews went well, the discussions widen my mind, and the job is challenging enough that I made it into an article in IndonesiaKreatif (here is the link!). Studying systems at my undergraduate program made me realize that the government is not integrated enough to make Indonesia more progressive than it is now (haha very personal opinion).

BUT.

That was not the most important thing I got from these months. It is what I got from many interviews with several entrepreneur in design area. I have interviewed both the start-up and the well-experienced ones. To me, being an entrepreneur is still the best way to seek wealth and be useful to the community at the same time. Most of them are brave, smart, and idealist. They want to give more impact to the community around them, and they did it! Making money is not their first priority, but the money always follows their effort. So much difference than most people I meet now.

They do not worry about money, which is a thing I can not do right now (lol). But you know, as I have said before, the money is “there” and they always get it. One of them, Mr Agus W, told me his experience. He is an entrepreneur and a lecturer in Surabaya.

The first time I start my business, I divided my time to 30% social things and 70% for making money. Then I changed my pattern to 60% social and 40% money (I forgot the numbers, but you get the point-N), and get more (money) than before!

Whoa. That reminds me to a quote I still remember today.

If we plant the rice plant (paddy), grass will grow by itself. But not vice versa. That means, we should do the most important ones first, the rest will follow.

– Mr Burhanudin Azis, a mentor, 2013.

Yeah, we should do the most important ones first: being good to other people and be useful to community (at least to me). In Islamic context, it is “putting Allah first“–but I try to translate it to everyday language. Well it is just me being in an ideal world. In reality, I’m still that lazy student struggling to fight her laziness. I hope this writing remind me if someday I go to the wrong path.

In order to get, you must give. I should have given more, for I have been given too many.

N, still wanting to travel around the world.

Advertisements

“Titip bilangin ya ke panitianya, kata teman saya orang luar negeri, angkot itu sangat mewah. Bisa dicegat dan diberhentikan di mana saja. Di luar negeri yang sistem transportasinya bagus, mana bisa penduduknya berlaku seperti itu.”

“Wah, Angkot Day ini menarik sekali! Semoga berhasil ya! Saya dukung sekali, saya ingin transportasi di Bandung seperti di luar negeri!”

“ANGKOT GRATIS ANGKOT GRATIS! DAGO ULANG TAHUN ANGKOT GRATIS YEUUH!”

“Sok saya dukung pisan ini program, saya mah rela bayar juga asal nggak ngetem dan tepat waktu dan nggak macet”

“Terima kasih ya angkot gratisnya! Semoga sukses dengan risetnya ya Mbak!”

Kata-kata di atas adalah pesan-pesan yang saya dapatkan ketika saya menjadi relawan #AngkotDay tanggal 20 September 2013 lalu. #AngkotDay adalah sebuah riset yang diprakarsai Riset Indie untuk memberikan kesadaran mengenai pentingnya transportasi publik di kota Bandung. Selama satu hari, angkot jurusan Kalapa-Dago digratiskan! Pertama kali mendengar #AngkotDay ini, saya langsung tertarik dengan konsepnya. Dari dulu saya mengidamkan adanya MRT/Mass Rapid Transportation alias kereta cepat yang bisa lewat dekat rumah. Yah, pokoknya transportasi publik yang nyaman, aman, dan tentu saja murah. Huahahaha.

Info mengenai #AngkotDay bisa dilihat di http://angkotday.info/ 😀

Pengalaman menjadi co-driver ini sungguh sangat berharga. Saya belajar banyak dari supir angkot, penumpang, maupun sesama relawan. Karena saya memilih shift pagi, saya berangkat subuh dari rumah dan langsung dipasangkan (cie) dengan seorang bapak supir angkot. Dari jam 05.30-11.30, saya bolak-balik Kalapa-Dago hingga 4 kali! Ternyata duduk saja bisa capek sendiri, belum lagi harus berinteraksi dengan para penumpang dan mensosialisasikan program #AngkotDay.

Nah, dari 4 rit yang dijalani, saya berpetualang dengan 3 supir saja karena pada rit 3 dan 4 saya berpasangan supir yang sama :””> aw romantisnya. Kesan setiap supir berbeda-beda, tentu saja. Nah, berikut adalah rangkuman dari apa yang saya dapatkan selama perjalanan.

  1. Supir Angkot. Semua supir yang menjadi jodoh saya senang dengan adanya #AngkotDay ini, terutama dengan adanya kompensasi uang (sehingga angkot bisa digratiskan). Jika disuruh memilih antara sistem setoran (yang berbeda-beda untuk setiap juragan angkot yaitu kisaran Rp90.000,00-Rp150.000,00) dan digaji tetap, ternyata gaji tetap lebih dipilih. Kisaran umur supir angkot pun sangat bervariasi, ada yang di bawah 30 tahun, 40 tahun, hingga 60 tahun. Salah satu supir yang menjadi “jodoh” saya adalah bapak-bapak berumur 60 tahun lebih yang memang dari dulu sudah menjadi supir angkot. Satu angkot pun bisa memiliki dua supir yang memiliki jam kerja bergantian.
  2. Ngetem. Salah satu sasaran dari riset #AngkotDay ini adalah melihat bagaimana efek jika angkot tidak ngetem selama seharian. Kenapa? Karena salah satu penyebab orang malas naik angkot adalah ketepatan waktunya yang sangat tidak dapat diandalkan. Padahal, angkot ngetem karena kurang penumpang. Lingkaran setan banget kan? Setelah mencoba angkot-tanpa-ngetem kemarin itu, memang perjalanan angkot menjadi cepat. Walaupun mungkin saja memang karena belum jam sibuk. Rit 1 hanya sejam, rit 2 1,5 jam, dan rit 3 dan 4 lebih lama lagi karena mobil-mobil sudah mulai banyak keluar. Ketika ditanya mengapa ngetem, tentu saja jawabannya mudah ditebak: setoran (walaupun ada supir yang mengaku tidak pernah ngetem (Y)) Setoran yang tetap dengan jumlah penumpang yang tidak tetap pun akan membuat supir angkot harus menghitung pengeluaran bensin, setoran, perawatan, dan sebagainya secara teliti. Selain jumlah penumpang yang tidak tentu, mereka juga berkomentar mengenai para wisatawan luar kota yang membawa kendaraan pribadi, yang biasanya memenuhi Bandung pada akhir pekan sehingga menyebabkan kemacetan. Cicilan motor yang murah pun menjadi salah satu sumber keluhan mereka. Yup, motor yang bisa dibeli dengan mudah menyebabkan penumpang berkurang dengan drastis.
  3. Jam Kerja. Jam kerja untuk setiap jurusan memang berbeda-beda. Ada yang jam 8 malam sudah tidak berkeliaran, namun ada juga yang 24 jam (eh ada nggak ya?). Ternyata, jam kerja untuk setiap supir angkot pun berbeda-beda, karena ditentukan oleh kesepakatan dengan juragan. Bapak supir pertama yang memang sudah berumur lebih dari 60 tahun, mengaku hanya bekerja dari pagi hingga jam 16.00 karena sudah “tidak kuat”. Sementara untuk angkot yang memiliki dua supir tentu sesuai dengan kesepakatan antara mereka berdua, biasanya dilakukan pergantian berdasarkan hari. Lalu, mereka juga memiliki istilah untuk jam kerja, misalnya “jam tanggung” untuk jam 09.00-11.00 dan 13.00-15.00, di mana penumpang sangat sedikit. Jam sibuk adalah jam pulang pergi sekolah dan kerja, yaitu sekitar pukul 06.00-09.00 dan 15.00-17.00.
  4. Penumpang. Secara umum, penumpang pada hari biasa memang kebanyakan perempuan. Menurut analisis sotoy saya, kemungkinan karena kebanyakan para pria sudah beralih ke motor karena cicilan motor semakin mudah dan murah. Penumpang pada saat #AngkotDay bervariasi. Ada yang memang rutin menggunakan dan ada yang memang menggunakan Kalapa-Dago untuk sekadar berekreasi karena gratis. Interaksi dengan penumpanglah yang sangat menarik, karena ketika saya menjelaskan mengenai #AngkotDay ini, sebagian besar terlihat antusias. Bahkan ada segerombolan anak SMP yang begitu tahu saya adalah relawan, langsung bertanya ini itu. Hihihi. Saya mendapat banyak wejangan dari penumpang, salah satunya seperti yang saya tulis di atas. Interaksi juga mengenalkan saya dengan lebih banyak tipe orang yang tidak dapat saya temui di tempat saya beraktivitas sehari-hari. Misalnya adalah orang-orang yang (sepertinya) buta huruf karena mereka menolak mengisi kuesioner yang saya bagikan namun bersedia ketika saya tawarkan untuk membacakan kuesionernya. Lalu ada yang seumuran saya namun pendidikan terakhirnya adalah SD. Pengalaman dengan penumpang membuat saya lebih menyadari keadaan dan kenyataan yang ada di Bandung. Wish I can solve those problems! Hal yang menarik lainnya adalah ada beberapa penumpang yang berterima kasih pada saya karena angkotnya jadi gratis! Hahahaha!
  5. Sistem Angkot. Ini banget sih yang paling bikin gemes. Mungkin karena saya dekat dengan orang yang mengerti mengenai transportasi (babeh maksudnya, hahahaha). Menurut beliau, Bandung memang sudah tidak cocok dengan sistem angkot karena sudah menjadi kota dengan lebih dari satu juta penduduk. Paling efektif itu MRT, kalau nggak ya bus kota deh minimal. Masalahnya adalah sistem! Walaupun ada yang bilang menyalahkan sistem itu tidak baik, minimal kita tahu deh akar masalahnya dari mana. Dari pengamatan saya pribadi dengan beberapa pengetahuan dari babeh, sistem angkot di Bandung dan Indonesia adalah swasta, di mana juragan angkot bisa memiliki angkot berapapun selama ada modal dan izin. Setiap angkot memiliki supirnya masing-masing yang menjadi supir, teman, perawat, dan sebagainya bagi angkot tersebut. Mungkin memang lebih baik semua angkot dikelola langsung oleh pemerintah dengan para “juragan” sebagai penanam modal kali ya.. (Tapi itu hanya ide sotoy saja sih, belum menggunakan metode ilmiah balabala untuk dibuktikan hahaha)
2013-09-20 07.09.05

Pemandangan dari kursi Co-Driver

Yah, mungkin itu sebongkah dua bongkah pengalaman saya menjadi Co-Driver di #AngkotDay. Menyenangkan sekali! Dengan adanya program ini, penduduk Bandung menjadi sadar akan pentingnya angkot. Usul saya (atau memang sudah direncanakan?), adakan lagi #AngkotDay, namun jangan gratis dan tetap tidak ngetem, karena itulah keadaan sebenarnya di lapangan. Diharapkan kita bisa benar-benar mendapatkan keadaan lapangan sebenarnya untuk membangun solusi yang tepat bagi sistem transportasi publik di Bandung.

xoxo

seorang penduduk Bandung sejati

N

I am not that gig person, so this event is still on my top five list of concert I have ever visited. First was Sherina’s when I was a child, the second was Soundshine with Kings of Convenience, and this was the third, I think.

I can not say that I like Jazz, but I like it more than I like metal or screaming music or such. I am that kind of person who will stuck in a song for a long time if I fall in love with particular songs, so I don’t really know about jazz musicians and the kind of jazz I like is only bossa nova.. And I won’t say otherwise just to look cool hahaha. I love Sergio Mendes, by the way.

Photo booth is a must in every concerts, so it is no wonder that this place always full with photo bombs and stuffs.
IMG_0517

Surprise, surprise! D’Masiv, a not-so-jazz-band, was on JJF! They jazzed up some of their songs.. Well, nice try!

IMG_0714

Marcus Miller, one of legendary jazz musician!

IMG_0778

IMG_0882

There were some photos my friend took. The night was so enjoyable that I can not remember the details. I remembered the moments. At some gigs, people was so exhausted and their feet sore and they SAT on the floor! Lol! I never saw that! Well, jazz was not the kind of music you can not enjoy while you’re sitting on the floor, right?

PS: the food price was so expensive >.<

Hello,

This Khanduri made my visit to campus not really fruitless since I don’t have any classes on Friday. It is kind of Aceh food festival but I think it’s more than that because there was a stage on Campus Center Basketball Field. We tried roti cane kari (curry cane bread), roti cane manis (sweet cane bread), mie Aceh (Aceh noodle), teh tarik (tarik tea), and martabak (?). And like every girls around the earth, we have to take a photo with/of the food before eating.

The girls and their appetites.

The girls and their appetites, from Sasri’s phone

p.s. The Curry Cane Bread was REALLY good!

xoxo

N.

IMG_0234

Rabu, 27 Februari 2013 lalu, saya mencatatkan di buku sejarah kehidupan untuk pertama kalinya menonton teater. Yah, tadinya saya ingin menulis hal di atas sebelum saya teringat bahwa waktu SMA dulu pernah ada tugas menonton teater dan membuat ulasannya juga. Hahaha, gagal deh.

Bersama teman-teman Informatika-pengambil-kelas-CI, saya meluncur ke Teater Tertutup Dago Tea House Bandung yang baru beberapa hari sebelumnya dikunjungi untuk Konser ISO. Pentas dimulai pukul 19.00, namun ketika kami datang jam 18.00 ternyata tempat sudah hampir penuh! Terpaksa kami mengambil di bagian-bagian sisa, yaitu di atas.

Karena pengalaman menonton teater saya sangat minim, saya tidak dapat membanding-bandingkan. Namun saya sangat suka konsep yang dipakai dan berpikir “bukankah memang sebaiknya setiap teater terkonsep seperti ini?“.

Cerita Taraksa sendiri merupakan cerita perjalanan cinta di sebuah dunia bernama Ahimsa. Dengan kreatif, tim Taraksa yang sebagian sama-sama dari SMA 3 Bandung dan seangkatan dengan saya, membuat dunia yang berbudaya dan seakan-akan benar-benar ada. Pakaian, bahasa, gerak-gerik, salam, dibuat sedemikian rupa hingga orang menyebut “tidak dapat diterka dari mana inspirasinya”, walau saya sendiri langsung teringat akan suku Indian di Amerika ketika melihat kostum penduduk Ahimsa yang berkeliling di sekitar penonton sebelum teater dimulai.

IMG_0239Stand makanan dan pernak-pernik pun tak lupa disediakan di area teater.

IMG_0247Ceritanya? 7/10. Kisah tak tersampaikan, Chiandra yang “mengubah” hidup Taraksa kemudian menghilang sehingga bisa dikategorikan sebagai manic pixie dream girl (maaf kalau sok tahu haha), dan petualangan memang formula yang hampir selalu manjur. Namun, kekuatan teater adalah penceritaan. Ide sederhana dapat begitu menyentuh jika dilakukan dengan tepat.

Teater Epik membuktikannya dengan cara melibatkan penonton, properti keren, musik apik, dan pencahayaan yang hampir tanpa cela. Saya paling suka adegan ikan-ikan Kordi di bagian paling akhir. Hanya dengan topeng dan buih-buih udara, saya langsung terbayang suatu tempat di dalam air dan ikan-ikan yang berenang-berenang. Tim Teater Epik pun terlihat sangat bahagia pada akhir pentas Taraksa terakhir ini.

IMG_0395Tak lupa, kami berfoto dengan pemeran, walaupun hanya dua tokoh utama: Chiandra yang jelita dan Balu yang ternyata sekelas CI juga, hahaha

IMG_0456

IMG_0461Akhir kata, saya sangat berharap keinginan tim Teater Epik terkabul: Teater Tertutup Dago Tea House kembali menjadi teater seperti yang seharusnya.

Last August 15th, my pretty junior-high-school-friend Fanny Octa Febrina had her thesis defense and got her S.Mn (Bachelor of Management) degree. We (our 3E girls clique) came to SBM and surprised her. These photos taken by Irfandie from my camera.

Congratulations for your A, Fanny 😀

Above: Fellyn, Fanny, Dita/Koji. Below: Arina, Dea, Nadine, Andhari

Then she treated us with random and impulsive dinner. We hope you become a successful financial planner or whatever you want to be.

I can’t go to her graduation day on October 21st, so I haven’t taken any photos with Fanny and her graduation hat. Hahaha. So when I came to her birthday and graduation party on October 23rd, I took these photos.

We hope you become a successful woman, Fanny. Don’t forget to pray for us, too. Next year will be ours, aamiinn!!

xoxo

N.

I went to Keuken last 30th of September with my fellows. It is the third Keuken (second was in Saparua, the first.. umm.. let me google it.. oh yes, it was in Cikapundung!) and the second I visited. “Keuken” is a Dutch word means “kitchen”. Funny, I thought it was a Sundanese word because it has “eu” in the word.

Keuken is a food festival. No, the food and beverages there are not cheap. But they offer something you can not always found in ordinary food festivals. Here are some photos from Marchy, Ari, and Aul’s cameras. Some of them taken by them and some of them by me.

Red velvet cake by White Plate

Fresh lemonade by Lemontree

Chef Harada, my father’s lost twin brother. Lol. He is so funny.

The fellows and the crowds

Me and Gita, with those empty container of delicious foooooddd

(only) the girls

To get the maximum benefit, the girls and I shared our menu. So I get many food and beverages with lower price. Some bits of the food I remember: red velvet cake, lemonade, burritos, bola ketan, es kering, keripik kribo, mie merapi for about 40.000 rupiahs…………… hahahahaha. Lucky the girls want to share their food together.

The event was SO CROWDED and the tables was full. It is lucky to get one table (finally) for us. It was so hard to walk and see the tenants. I hope the next event will be better/

Can’t wait for the next event!

xoxo

N.