Archive

What She Wants

To travel is to learn.

The last time I wander very far from home left me so many things to contemplate. That last time was the first time I feel differences is what makes us rich. That was the wanderlust changing you from inside and reflected on your outside. And it could be from anywhere you walk. There is no such thing as fruitless journey.

To travel is to left you craving for more.. but sometimes there are borders you can’t cross, so you need companions.

To travel is to let you see the big picture you have missed all the time.

“In travel, a companion. In life, compassion” – Japanese proverb

Would you, please?

xoxo

N

Advertisements

I had passed a phase when I watched Finding Nemo every day and mouthing the dialogue, especially Dory’s.

“Just keep swimming, just keep swimming, just keep swimming, swimming, swimming”
“Mine?!”
“Yes, I am a natural blue”
“I love games! Pick me! Pick me!”
“He is looking for his son, Fabio”

“P. Sherman, 42 Wally Way, Sydney. I can remember that again!”
“It’s.. a butt!”

etc. My grey cells even remember most of the fishes’ species. Clownfish, regal blue tang, yellow tang, starfishes.. um, I forgot already lol

Growing up with Pixar beautiful and realistic animation makes me dreaming of working in there someday.. also dreaming to make an aquarium of the fishes of Finding Nemo. While I still do not have any resources to do that (my dad had tried to buy 2-3 ocean fishes, but they’re all dead since they need gentle care and neat sea water cycle).. Googling photos of some real life Finding Nemo aquarium is very satisfying. Here are some of them 🙂

Enjoy!

http://www.marinedepot.com/finding-nemo-tank-gang.html

This is a regal blue tang, captured by Marchybum

This is a regal blue tang, captured by Marchybum

Long Beach Aquarium (click for the link)

This one is so nice!!!!

http://www.youtube.com/watch?v=LKlz_h0vmls

xoxo (another I-should-be-studying-but-I-posted-some-unnecessary-things-instead night)

N

Have I told you how much I love rainy days?
The way I seldom bring any umbrellas,
the way I always refuse when my friends offers me their umbrella (if it’s only light to medium rain),
the way it gives me chill,
the way “la pluie” is one of my first French word,
the way I listen to this even on these rainy days
should have told you how much I love it more than sunny ones.

xoxo

N

Bingung juga jika ditanya seperti itu. Karena sepertinya tiga bulan kemarin bukanlah liburan karena dua bulan pertama dihabiskan dengan kerja praktek yang sedikit menyebalkan tapi menambah banyak pengalaman non-kerja dan sebulan terakhir dihabiskan dengan berpuasa. Di rumah. Deg-degan nunggu pengumuman adik. Dan sebagainya.

Daripada meratapi kembali nasib yang sudah diratapi kemarin, mari menghitung apa saja yang sudah dikerjakan selama liburan:

  1. Baca buku! Yeahh. Ini yang paling bikin liburan ini agak ada artinya. Selama liburan ini, saya keliling Westeros, Essos, Tokyo, Capitol, dan banyak lagi. Buku-buku yang dibaca antara lain: A Storm of Swords, A Feast for Crows, Norwegian Wood, Supernova, Catching Fire, A Dance With Dragons, Perahu Kertas, dan banyak bacaan acak lainnya. Total halaman? Karena A Storm of Swords 992 halaman, A Feast for Crows 753 halaman, A Dance With Dragons 1056 halaman, maka totalnya akan melebihi 3000 halaman. Wow!
  2. Menemukan arti hidup. Haha apeu. Nggak segitunya sih, tapi jadi menemukan keinginan hidup yang sebenarnya. Traveling, melihat dunia sebanyak-banyaknya, nikah, duit yang banyak, dan lain-lain.
  3. Main games komputer! Pasti. Liburan tanpa games adalah liburan yang sia-sia! Beberapa game dijabanin deh. Seperti Chocolatier 2, Beach Life, Annabel, The Sims 3, dan SimCity Social. Nggak kayak gamer-gamer lainnya, saya memang cups banget urusan ini. Sukanya yang sendiri dan strategi, haha.

    Chocolatier 2 di bagian Indonesia. Bikin ngiler cokelat. (click for zoom)

  4. Mencoba beberapa mal Jakarta. Hampir setiap minggu tujuannya berubah. Grand Indonesia, Plaza Indonesia, Plaza Senayan, FX, EX, Sarinah (eh bukan mal deng), dan sebagainya yang memang berbeda banget dengan mal yang ada di Bandung yang masih bisa terpetakan dengan sekali jalan. Bikin pendatang ngerasa level kampungannya bertambah berkali-kali lipat karena bisa nyasar di dalam ruangan.
  5. A Song of Ice and Fire fangirling. Apa ya bahasa Indonesianya “fangirling”? Bingung juga. Intinya sih nyari tahu semua hal yang berhubungan dengan ASOIAF karena GILA BANGET SERIAL ITU ADIKTIF BANGET. Ibarat Harry Potter bagi Nadinastiti berumur 9 tahun, ASOIAF menyihir Nadinastiti yang berumur 20 tahun. UWOW UYEAH!

    Hizdahr, Daario, Daenerys, Missandei, by Eleanor Ferguson

  6. Ngulang The Big Bang Theory… dan ternyata banyak jokes yang sekarang baru ngerti setelah nonton Star Wars dan berbagai serial fiksi ilmiah lainnya. Haha. Oh, Sheldon!

  7. Belajar budaya Jakarta yang.. wow kaka wow~ Beda banget dengan Bandung. Semacam tua di jalan gitu.
  8. Belajar bagaimana cara mengelola kosan. Tentu saja belajar dari pengalaman super buruk selama ngekos di kosan mahal yang nggak worth-it. Hahaha.

Eh lumayan banyak juga ternyata! Tapi hanya satu yang kurang. Nggak keluar dari Bandung ataupun Jakarta 😥 Hampa rasanya liburan ini. Terakhir kali keluar pulau udah dua tahun lalu. Huft.. (backsound: It’s all about the money, it’s all about dum-dum-dum-durudum~)

Singkatnya: belum puas liburan!

N

Setelah dipikir-pikir, saya terakhir kali membeli dompet ketika… SD. Dompet yang dibeli adalah dompet biru bergambar beruang seperti gambar-gambar dari agenda Korea yang grammar Inggrisnya kacau.

Model dompet yang selama ini menemani hidup #ceilee

Kalau tidak salah dompet itu saya gunakan sampai SMP. Karena saya memang tidak suka membawa-bawa sesuatu di tangan, saya lebih suka membawa dompet di tas lalu uangnya dimasukkan ke saku. Dompet pun menjadi sebatas penyimpan kartu yang diperlukan (cuma kartu pelajar dan kartu donor darah). Uang yang dibawa pun tidak banyak karena sudah kebiasaan.

Tapi ternyata kebiasaan ini nggak bisa dibawah ke kehidupan kuliah. Karena terkadang ikut panitia begini begitu yang harus nyimpen nota/bon, perlu duit dadakan jadi harus ngambil di ATM, ada donor darah di kampus, dan lain hal menyebabkan dompet menjadi kebutuhan yang sangat penting. Dari semua hal yang dibawa ke kampus, yang penting ada dua: handphone dan dompet. Hahaha.

Salah satu dompet impian

Selama beberapa tahun terakhir ini dompet saya termasuk jenis dompet kulit bapak-bapak yang tipis. Uang yang ada selalu saya urutkan berdasarkan nominal, sesuai dengan kebiasaan belajar visual (katanya Shahnaz Haque waktu penerimaan mahasiswa baru tahun 2009). Terus ada bagian dompet untuk menyimpan uang yang bukan hak milik dan nota/bon, misalnya buat kepanitiaan dll.

Dompet yang dipakai tiga, tapi modelnya sama semua seperti gambar dompet hitam di atas. Semuanya juga barang hasil nemu di rumah. Mulai dari hadiah tukar kado jaman pisah kelas sampai punya ayah waktu dulu.

Berhubung dompet terakhir dibeli lebih dari enam tahun yang lalu, boleh dong curhat bahwa sekarang saya butuh dompet yang memadai. Karena dompet saya sekarang ada beberapa bagian yang rusak dan membuat kartu berjatuhan. Huftness.

Moga-moga ada yang mau beliin deh, kayak gambar di samping misalnya. Yayaya? *Mata berbinar-binar penuh harapan*

-N

via Goodreads

My sixth semester had started three weeks ago, but I still continue my last holiday mission: “reading as many books as you can”. Yeah, I’m still reading A Song of Ice and Fire: A Game of Thrones. It has been a month now and I can’t seem to finish it this week. Holden Caulfield would say, “it killed me” for the story. The book taught me many things, phrases, and words in English. You may read my review as soon as I finish it 😉 (hopefully really really sooooonnn)

I also had seen the first episode of Game of Thrones serials. It was the most thorough book adaptation ever (since I never read The Lord of The Rings haha). I can’t wait to watch more episodes, but.. sigh, I have those works I can’t delay.

This book cover is the version I read. I like the picture, but I never really liked the “movie/serial-poster-as-book-cover” concept. It’s ugly because I always think movie/serial adaptation is a complete different thing from the book.

x